Jumat, 31 Oktober 2014

Cerpen: Cemburu Membawa Berkah

Terdengar suara sesegukkan dari seberang sana.

“Maafkan aku Lisa, aku sangat mencintaimu. Aku begitu menyayangimu. Aku tahu begitu pula denganmu. Tapi maaf Lisa, aku tak sanggup menghadapi sikapmu yang terlalu cemburu dengan wanita itu. sedangkan aku tak sedikitpun berhubungan dengannya.

“Aku capek Lisa di setiap obrolan kita, selalu kau ungkit nama wanita itu. bukannya semua komentarnya di status fbku itu komentar yang biasa-biasa saja? Bukankah banyak teman-temanku melakukan hal yang sama pada statusku?"

Semakin terasa sesak hati wanita itu, semakin deras air bening yang membasahi pipinya. Ia sedikit mengatur nafas dan volume suaranya.

“Aku tak akan secemburu ini mas, aku tak akan selalu menyebut nama wanita itu di setiap obrolan kita jika wanita itu tak selalu mampir di setiap statusmu. Sikapnya padamu itu beda mas dengan sikap teman-temanmu. Apa itu hal yang biasa? Tak ingat kah kau kisah kita berawal dari komentar yang rutin di setiap statusmu dan statusku?

“Ingat mas! bukankan engkau pernah secemburu ini padaku? karena kau tak suka dengan sikap beberapa temanmu yang mendekatiku melalui social media. hingga memblock mereka adalah jalan keluarnya. Dan aku tak sedikitpun marah mas. Semua ini sangat tidak adil.”  jelasnya dengan suara yang semakin parau. Tangisnya semakin kencang, emosinya mulai meningkat.

“Maafkan aku Lisa, Aku sadar apa yang kita lakukan salah, kamu pasti mengerti itu. seakan-akan kita memaksakan Allah untuk menyatukan kita. Aku hanya akan mencintaimu apabila engkau telah halal bagiku, aku akan mencintaimu dalam ketaatan. Sekali lagi maafkan aku Lisa” suara lelaki itu melemah.

Tak ada suara  wanita itu dari seberang sana, hening. Hanya suara motor yang sesekali lewat. “Haloo Lisa? kau masih di sana? Haloo Lisa apa kau mendengarkanku?”

“I I iya.. iya mas Arga, aku masih di sini, baiklah kalau itu menjadi inginmu, aku pergi. Maaf untuk kesalahanku selama ini, Assalamu’alaikum” telfon dimatikan tanpa sedikit mendengarkan balasan salam dari laki-laki itu.

Tubuhnya melemah. Gemetar. Air bening dari matanya terus mengalir. Handphone dalam genggamannya seketika jatuh ke lantai, pecah berserakan.

“Aku tak percaya dia mengakhiri hubungan ini, apa maksudnya dengan hubungan yang salah? Untuk bertemu saja kita tak pernah. Bukankah dia yang selalu berkata  karena dia percaya bahwa kita jodoh maka hubungan kita sampai sejauh ini? Ya Allah aku tak percaya dengan semua yang terjadi, ketika aku mulai mencintainya tapi ia memilih untuk pergi”. Tangisannya semakin kencang.

Waktu menunjukkan pukul 3 pagi, ia masih terjaga dengan mata yang semakin bengkak. Mengenang masa-masa menjalin cinta dengan lelaki yang bernama Arga itu, menyumpah-nyumpah wanita yang menjadi sumber dari masalah ini, menyumpah dirinya sendiri. Menyesali apa yang telah ia lakukan dan menyayangkan sikap Arga terhadapnya.

Ia mencari handphonenya, ia teringat akan kejadian tadi. segera dipungut dan diperbaiki handphonenya yang berserakan. Dinyalakan dan tak lama bergetar tanda pesan masuk. Dibuka pesan itu. tiba-tiba matanya kembali berlinang membaca pesan singkat itu.

Ya Allah Lisa, Mas sayang kamu dek”

Entah ada angin apa, Lisa segera bangkit dari duduknya, Meninggalkan handphonenya. Ia menuju kamar kecil dan segera berwudhu. mengenakan mukenah dan membentangkan sajadah. Di sepertiga malam ia menangis pada sang pemilik hati.

“Ya Allah aku mencintainya, jika Engkau berkenan pertemukan kami atas dasar cinta karenaMu, Kuatkan hati ini untuk menghadapi cobaan hati dariMu ya Rabb. Bantu aku memperbaiki diri ini” Lisa terisak dalam keheningan. Suaranya hilang bersama angin malam.

Ada ketenangan, ada kesejukan setelah melaksanakan sholat tahajud itu.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Ibadahnya semakin meningkat. Mulai dari Qiyamul Lail dan Dhuha setiap harinya. Tilawah yang ditargetkan 2 juz perhari, dan Ia terus menambah hafalan Al-Qur’annya.

Setelah sebulan berlalu Ia kembali membuka facebook. Karena kerinduannya pada Arga, Ia mampir ke profil laki-laki itu, dan masih sama, masih ada nama wanita itu dalam setiap status Arga. Perasaan Lisa begitu sesak, matanya kembali berair. Iapun segera menutup akun facebooknya.

”Ya Allah kuatkan aku, semoga pemandangan tadi tak akan mengurangi cintaku padaMu, Ya Allah pertemukan aku dengannya, aku mencintainya. Ya Allah jika setiap dhuha dan tahajud ada raka’at yang lebih dari 12 raka’at akan aku tunaikan. kuatkan hati ini ya Allah”

1 tahun berlalu, Amalan hariannya semakin lama semakin meningkat. Rasa cintaannya pada laki-laki itu semakin mendekatkan ia pada Allah. Tahajud dan Dhuha yang dilakukan rutin setiap hari. Hafalannya yang mencapai lebih  dari 1 juz.

Hingga di sepertiga malam berikutnya, ia terkenang dengan apa yang diucapkan oleh laki-laki itu “Aku sadar apa yang kita lakukan salah, kamu pasti mengerti itu. seakan-akan kita memaksakan Allah untuk menyatukan kita.” Ia pun tersadar dalam lamunannya. Segera ia beristigfar, Tanpa berpikir panjang ia langsung melaksanakan sholat tahajud memohon ampunan. Dalam tahajudnya ia menangis tersedu-sedu.

“Wahai diri
Jika kau mencintainya karena Allah
Cintailah ia dengan cara yang benar
Cintailah ia pada saat yang tepat
Cintailah ia dengan sebenar-benarnya cinta…

“Ya Rabb,
Aku tak akan lagi memaksakan diri hanya untuk sebuah perasaan
Jika memang dia jiwa yang kau pilihkan berikan kami jalan
Jika memang dia takdir yang Kau tetapkan sampaikan rinduku dengan caraMu
Jika memang dia yang kau siapkan untukku, 
pantaskan Aku untuknya dan pantaskan ia untukku.

“Ya Rabb
Aku titipkan hati ini padaMu
Berikanlah pada orang yang namanya tertulis di Lauh Mahfudz
Berikanlah pada orang yang melabuhkan cintanya padaMu
Berikan padanya, seseorang yang ku pilih.

“Ya Rabb,
Jika memang dia bagus untukku, Bagus untuk agamaku
Satukanlah kami dengan pita cintaMu
Jika dia memang penyempurna agamaku
Pengisi sela-sela jariku
Hadiahkan hatiku untuknya dan buatlah ia mencintaiku.

“Ya Rabb,
Jika ada dua pilihan diantaranya adalah dia, pilihkan dia untukku
Jika ada sepuluh pilihan dan di antaranya adalah dia, pilihkan dia untukku
Jika ada seratus pilihan dan di antaranya adalah dia, pilihkan dia untukku
Dan jika hanya ada satu pilihan namun tidak ada dia dalam pilihan itu
Maka aku akan lapang menerimanya
Sebagai bentuk pemberian terbesar-Mu
Karena Engkaulah yang Mahatahu
Karena Engkaulah pemilik takdirku
Karena Engkaulah yang memelihara diriku
Aku tak akan memaksakan hatiku pada yang bukan takdirku
Karena yang benar-benar ku cinta hanyalah Engkau ya Rabb.

“Ya Rabb,
Aku masih berharap dialah kekasih halalku
Yang Kau siapkan khusus untukku
Aku memilihnya dengan sebuah keyakinan.
Aku terima setiap ketetapanMu yang kau berikan
Aku terima segala suka dan duka yang menyertai
Aku bersedia ia jadikan aku sebagai tulang rusuknya
Aku bersedia dituntunnya, menjadi imamku
Aku bersedia menjadi pelita dan sandarannya.

“Ya Rabb,
Aku yakin takdirMu pasti
Aku yakin rencanaMu sangat terukur
Aku yakin rencanaMu yang terbaik
Aku yakin setiap ketetapanMu tidak ada yang salah
Maka aku pun harus yakin
Jika dia bukan jiwa yang Kau pilihakan untukku
Akan ada jiwa lain yang lebih pantas untukku
Untuk bertahta di hatiku.

“Ya Rabb,
Dengan segala kekuasaanMu, dengan segala kekuatanMu, dengan segala keagunganMu
Aku memohon kepadaMu
Kuatkalah hati ini saat ketetapanMu membuat hati ini terasa sempit
Tenangkan hati ini saat ketetapanMu membuat hati ini terasa berat
Sesungguhnya hanya dengan pertolongaMu, diri ini bisa menjalani semua ketentuanMu.

“Ya Rabb
Buatlah diriku mencintaiMu lebih dari segala makhluk yang telah engkau ciptakan
Buatlah diriku mencintai Rasulullah, karena Engkau pun mencintainya.
Aamiin”

Malam yang indah itu memberikan ketenangan dan keteduhan kepadanya, menambah kecintaannya pada Rabbnya.

Beberapa hari kemudian Lisa menerima telephone dari murobbinya,  diajaknya ia ke suatu restoran yang cukup mewah dan begitu tenang suasana di dalamnya.

“Maaf ustadzah, ada apa gerangan ustadzah mengajak saya ke tempat seperti ini, dan hanya berdua saja?” suara lisa begitu lembut

“Lisa, saya akan menyampaikan 2 hal padamu. Saya diundang ke suatu acara di suatu daerah. Sayangnya saya berhalangan untuk hadir karena anak saya sakit. Untuk itu apa kau berkenan mewakiliku pada acara itu? acaranya 2 hari lagi” segurat senyum tergambar dari wajah ustadzah itu.
“Insya Allah ustadzah saya bisa dengan senang hati” jawab Lisa dengan membalas senyumnya.
Terkadang Lisa sulit menolak permintaan murobbinya, selagi Ia mampu maka akan ia lakukan, karena ketsiqohannya pada sosok murobbinya.
“Terus yang ke dua apa ustadzah?” lanjutnya penasaran.
“Apa yang akan kau lakukan jika telah tiba seorang pemuda yang ingin meminangmu?”
“Maaf ustadzah, maksudnya apa?” Lisa tersentak kaget. Baru kali ini beliau membahas soal itu.
“Begini Lisa, ada seorang pemuda yang ingin mengkhitbahmu, jika kau mau maka akan aku bantu prosesnya”
Tanpa bertanya siapa dan apa latar belakang pemuda itu. Lisa buru-buru menjawabnya.
“Ma... maaf ustadzah, aku belum siap untuk itu” jawabnya tertunduk.
“Kau tidak harus menjawabnya sekarang sayangku, kau bisa menjawabnya nanti jika kau sudah siap dengan lamaran itu.” jelasnya dengan tersenyum
“Maafkan aku ustadzah” jawabnya lagi. Rasa bersalah mulai merasukinya. Tak pernah sekalipun ia menolak permintaan atau tawaran dari murobbinya.
“Gak apa-apa anakku, tapi apalagi yang kau tunggu? Kau sudah menyelesaikan studimu, kau sudah punya usaha sendiri. Kau sudah bisa mempekerjakan beberapa karyawanmu. Apalagi yang kau tunggu anakku?”
“Maafkan aku ustadzah, aku belum siap untuk hal itu” Ia masih bersikukuh dengan jawabannya. Entah apa yang menjadi penghalangnya. Sosok Arga masih terjaga dalam hatinya.
Pertemuan itu berakhir dengan tawaran kedua yang ditolak oleh Lisa. Sang murobbi tak mau memaksakan kehendaknya. Ia mengerti bagaimana perasaan Lisa, tapi Ia tak tahu bahwa ada laki-laki lain yang menjadi alasan mengapa Lisa menolak tawarannya.

2 hari kemudian ia sudah berada di daerah itu untuk menghadiri undangan. Skenario Allah benar-benar indah, Tak disangka ia bertemu dengan lelaki yang bernama Arga, laki-laki yang amat dicintainya. Bahagia merasuki hati Lisa. Saking bahagianya ia gugup saat laki-laki itu menghampirinya.

“Lisa?” wajah bahagia arga terlihat jelas.
“Iya Mas” sambil menundukkan pandangannya.
“Kamu benar lisa kan? Kamu apa kabar? Sudah lama ya kita gak ngobrol”
Jantung Lisa berdegup kencang, pandangannya mulai tidak teratur, sekali dua kali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Baik mas” jawabnya singkat
“kamu ikut acara ini juga? Gak nyangka ya kita bisa bertemu di acara ini”
“Iya mas” Jawab Lisa masih tertunduk.
Laki-laki itu mengambil sesuatu dari tasnya, dan ternyata sebuah undangan berwarna cream. Itu undangan apa? Undangan siapa? Gumamnya dalam hati. Rasa khawatir semakin kuat.
“Mas punya undangan buat kamu, 2 minggu lagi mas walimah” jelasnya
“e e.. oh iya terima kasih, dengan siapa mas?” Lisa begitu gugup
“Dengan Dewi Lis” Sambil menyodorkan undangan.
Lisa menerima undangan itu, bergetar hatinya. Begitu sesak rasanya. Matanya mulai berkaca-kaca, dan masih dalam keadaan tertunduk.
“Mas tahu kamu pasti gak bisa hadir, karena jarak yang teramat jauh. Mohon doa restunya ya, mas ke dalam dulu. Assalamu’alaikum” Arga berlalu tanpa sedikitpun merasa curiga. dia benar-benar tidak menyadari bahwa saat mendengar berita itu Lisa menjadi terpaku seperti batu. Diam seribu bahasa. Dia juga tidak tahu bahwa Lisa sangat mencintai dan menantinya hingga saat ini.

Lisa memandang lamat-lamat undangan pernikahan itu. “Dewi? Dewi wanita yang selama ini selalu menghiasi facebook mas Arga, wanita yang selalu ku sebut dalam setiap obrolanku dengan mas Arga. Dia.. dia akan menjadi istri mas Arga?”. Gumamnya dalam hati.  Titik air itu pun jatuh membasahi pipinya. Ia pun berlalu mencari mushola di gedung itu.

Begitu sesak rasanya, dalam sholatnya ia tak kuasa menahan tangis. Penantian yang sia-sia, hanya berujung pada kehilangan. Matanya lebam meradang.

“Ya Rabb, inikah jawaban atas doa-doaku? Inikah jawaban atas penantianku? Kuatkan aku untuk menghadapi Skenario baru yang telah Engkau tuliskan. Ya Rabbi laki-laki itu akan menikah dengan wanita yang aku khawatirkan selama ini. jangan buat ujian ini hanya akan menjauhkanku darimu” Tangisnya pecah dalam musholah kecil itu. dan baru bisa tenang beberapa menit kemudian. Setelah usai melaksanakan sholat ia mencoba menenangkan diri.

Lisa, Tak usah khawatir jika dia bukan jiwa yang dipilihkanNya untukmu
Karena yang terbaik pasti akan terwujud
Hanya waktu yang akan menjadi saksi kekuasaanNya
Tak usah memaksakan jika kau memang bukan untuk dirinya
Karena pasti dia bukan yang terbaik untukmu.

Lisa, biarkan pahatNya yang mengukir takdir, biarkan kuasaNya yang melukis kisah manis.
Biarkan tanganNya yang meramu, semoga dia bahagia dengan pilihannya

Ia terus menenangkan dirinya, sekitar sejam dalam musholah. Dan berlalu ke tempat acara. Lebih tenang dari sebelumnya, ia menganggap seperti tak ada yang terjadi hingga di akhir acara. Berpamitan dengan teman-teman peserta, termasuk Arga. Dan kembali ke kampung halaman.

Ada pelajaran baru yang telah ia dapatkan selama ini, benar kata mas Arga bahwa “kita tidak bisa memaksakan Allah untuk menyatukan kita”. Karena Allah akan pilihkan pasangan yang terbaik untuk kita. Ada segurat senyum dan setetes embun yang membasahi pipinya. Ternyata ini benar-benar skenario yang telah Allah tunjukan. Alhamdulillah…

2 minggu berlalu, Arga telah menikah dengan wanita itu. Sedang Lisa? Lisa hanya sibuk dengan pegawainya. Usahanya semakin meningkat pesat. Pesanan demi pesanan mulai membanjiri kantornya. Kesibukan itu membuat ia lupa dengan masalah Arga.

Beberapa jam kemudian handphonenya berdering, seorang wanita mengajaknya bertemu. Wanita itu adalah murobbinya. Beliau menanyakan acara 2 minggu yang lalu, kemudian menawarkan hal yang sama padanya. Lisa hanya terdiam. Tanpa ditawari berulang-ulang, Ia yakin dan menerima tawaran itu. Bismillah…

Persiapan pernikahannya tak terlalu lama, Ta’aruf, Khitbah dan Walimatul ursy berjalan dengan lancar tanpa sedikitpun hambatan. Hingga di malam pertama di kamar pengantin yang begitu indah itu...

“Dik, kita sholat 2 raka’at dulu ya” ajak suaminya dengan lembut.
“Iya mas” ia mengikuti.
Setelah sholat, Lisa mencium tangan suaminya. Dan suaminya membalas dengan mencium keningnya.
“Mas Reza capek? Lisa pijitin ya?” senyumnya merekah.
“boleh sayang” balasnya.
Tak lama lisa memijit bahu suaminya, tiba-tiba mas Reza memintanya untuk berhenti. Dan berbalik arah melihat wajah cantik istrinya.
 “Dik, sebenarnya dari dulu mas mulai mengagumimu. Mas selalu meminta kepada Allah agar bisa disatukan denganmu, 2 tahun yang lalu mas melihatmu pada agenda kampus. Mas meminta untuk dihadiahkan kamu dalam hidup mas. Dari dulu mas ingin mengungkapkannya padamu, tapi mas tidak ingin kau terganggu dengan rasa ini, mas urungkan niat itu dalam penantian selama 2 tahun lamanya. Dan melalui murobbimu lah mas memulai semuanya. Mas yakin kalau kita jodoh pasti akan dimudahkan, walaupun awalnya kau menolak. Tapi usaha mas melalui murobbimu tak berhenti sampai di situ. Semua karena rasa cinta yang tulus untukmu, semua mas niatkan karena cinta mas pada Penciptamu sayangku, karena kau dan mas adalah milikNya”.

Seketika Lisa menangis, menyadari bahwa skenario Allah itu benar-benar indah. Ia terlalu sibuk memikirkan Arga, dan lupa bahwa kelak akan Allah hadirkan sosok yang tulus mencintainya, dengan segala usaha yang ia lakukan. Dan dia percaya bahwa jodoh seseorang adalah cerminan dari dirinya. Penantian yang sia-sia digantikan dengan keindahan. Semua berawal dari cemburu. Skenario Allah memang indah, Cemburu membawa berkah. Hingga cinta yang tulus dari insan yang  mencintainya adalah hadiah dari Allah untuknya.
“Aku Mencintaimu mas” air matanyanya diusap lembut oleh suaminya.
“Aku pun demikian sayangku” balasnya dengan kehangatan.

Malam itu begitu indah, ketentuan hukum alam sesungguhnya telah diterapkan Allah sejak dulu kala. Begitu juga perputaran waktu. Allah menggariskannya. Malam yang begitu indah dirasakan oleh 2 insan yang saling mencinta. Hingga Allah dan para malaikatNya tersenyum  melihat sepasang kekasih itu.

17 komentar:

  1. crtanya keren, penggnaan tata bhsax jga bgs Mdh dphMi.... tpi alngkah bgsx crtax itu dtMbah dg khdpanx lisa sMa suaMix donk :D :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lisa dengan suaminya nanti di episode-episode berikutnya. makasih sudah berkunjung :*

      Hapus
  2. Terimakasih mba, menjadi pengingat untuk diri ini (n_n)

    BalasHapus
  3. emmm,, ana kayak sedang membaca cerita ttg "Diri sendiri" :-D kecuali bagian Nikahnya, ana belum -_-
    Ceritanya Good, Fantastis.. but, ini cerita Fiksi ya? coba cari Info ttg "Hukum Cerita fiksi" (Perspektif Islam) :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahai nikah joo supaya smo sma ceritanya...
      oke syukron, antum kyak juri lomba karya ilmiah eeh (perspektif Islam) Ingat? :D

      Hapus
  4. bagus ceritanya....
    santun tata bahasanya...
    sya sangat suka bagian terakhir, sosok reza yg ternyata menunggu dia selama 2 tahun...
    tapi saya lebih suka do'a lisa kepada RabbNya,sperti syair aja..hehe

    saran saya perlu ditambah sosok reza dlam cerita ini..
    :D :D
    d tnggu cerita slanjutnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih kakaaaak.. iya nntikan episode episode selanjutnya :)

      Hapus
  5. keren mba ceritannya, meginspirasi anak muda sekarang yang keseringan galau karan pacar :)
    mba ditunggu cerita selanjutnya :)

    BalasHapus
  6. Subhanallah,,, ceritanya sungguh menginspiratif, semoga penulis segera menyusul lisa dan reza... amin.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ana nunggu kritikannya. eh malah didoain cepat nyusul. aamiin deh :)
      jazakallah sudah berkunjung.

      Hapus
  7. ceritanya sudah bagus dari segi diksinya sudah rapi, tapi sedikit ditambah kiasan-kiasan kata-katanya. selain itu kata-kata tertentu usahakan jangan terlalu disebutkan dengan nama yang sama, seperti kata tahajud mungkin bisa digantikan dengan dalam dekapan kaki subuh, itu sih saran dari isa alamsiyah. peace

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih sudah berkunjung sahabat pena baruku.. terima kasih untuk masukannya

      Hapus