Sumber Gambar: Google
Teringat
masa lalu waktu masih belajar di bangku sekolah dasar. Menjadi orang nomor
satu diantara teman-teman adalah mimpi bagi setiap orang. Semua itu akan
tercapai ketika mereka mau berusaha dengan belajar dan berdoa. Tapi kali ini
saya akan menyampaikan ternyata ada juga usaha lain untuk mendapatkan prestasi.
Saya akan sedikit menceritakan pengalaman pribadi tentang hal ini.
Langsung
saja ceritanya di TKP hehehe :D
Waktu
itu saya kelas 3 SD. pastinya telah melewati 2 kelas dibawahnya dengan prestasi
di atas teman-teman. Prestasi itu menurun menjadi orang nomor 3 di kelas.
Dengan penuh tanda tanya “ada apa gerangan?” berusaha mengevaluasi diri baik-baik.
Diingat-ingat proses pembelajaran selama di kelas. Sama saja dengan proses
selama 2 tahun terakhir. Belajar yang rajin. Menjadi yang paling beda dengan
teman-teman sekelas. Sekali lagi ada apa?
Seberapa
besar usaha si nomor 1 dan nomor 2? Entahlah saya tidak pernah tahu seberapa
besar usaha mereka. Tapi kita bisa melihat semuanya, membaca semuanya melalui
proses yang mereka jalani selama pembelajaran. Bukankah kita bisa melihat baik
tidaknya suatu hasil melalui prosesnya?
Hal
ini terungkap ketika ada bisik-bisik tetangga diantara para guru. katanya orang
tua dari yang nomor 1 dan 2 mendatangi wali kelas dan memberikan uang dan
bingkisan sebagai hadiah, Agar anak yang bersangkutan bisa menjadi nomor 1 di
kelas.
Dilihat
dari proses pembelajaran mereka selama di kelas itu tidak ada yang special.
Saya bukan meninggikan diri atau bahkan merendahkan orang lain.
Ketidakadilanlah yang membuat saya terpancing untuk melakukan hal ini. dimana
diri kita sendiri lah yang dapat menilai seberapa besar usaha dan kemampuan
kita dalam mencapai suatu titik kesuksesan.
Hal
yang seperti itu berlangsung bukan hanya selama di kelas 3 SD saja, ternyata
berlanjut juga di kelas 4 SD yang sayangnya sikap gurunya sama. Menerima
tawaran penghalalan suatu usaha.
Ada
beberapa point penting yang menjadi suatu acuan dan merupakan pembelajaran bagi
saya.
Yang
pertama, seorang guru. Guru sudah dikenal dalam lagu Hymne Guru. Nyanyi
bareng-bareng yuuk, 1…2…3
Terpujilah wahai engkau ibu bapak
guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu
Engkau
sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa
Waaaah suaranya bagus yaa hehehe. Prok prok
prok #tepokjidat :D
Lanjut ke pembahasan yang tadi. GURU, bisa
dilihat dari lirik lagu di atas baris pertama. Bahwa guru adalah orang yang
terpuji. Dan lirik 2 baris terakhir yaitu Guru adalah pahlawan bangsa tanpa
tanda jasa.
2 hal penting dari lirik lagu itu akan saya
hubungkan ke masalah di atas, bahwa guru adalah orang yang terpuji. Perilaku
terpuji merupakan segala sikap, ucapan dan perbuatan yang baik yang sesuai
ajaran Islam. Dari cerita di atas apakah sikap guru sudah masuk dalam sikap
terpuji? Bukankan jujur adalah bagian dari sikap terpuji?
Selanjutnya guru adalah pahlawan tanpa tanda
jasa. Dari cerita di atas apakah guru yang seperti itu dikatakan sebagai
pahlawan? Mungkin itu namanya pahlawan penerima jasa, bukan pahlawan tanpa
tanda jasa.
Dari kejadian itu saya mengambil pelajaran, kelak
nanti saya akan menjadi seorang guru, walaupun hanya menjadi guru untuk
anak-anak saya nanti #eh hehe. Saya tidak ingin menjadi guru yang harga dirinya
bisa dibeli. Sikap tidak Professional yang dilakukan tidak hanya akan berdampak
pada diri kita. Tapi juga pada anak didik kita. Dengan prestasi yang diperoleh
secara instan pastinya tidak akan
melekat lama dan tidak akan terkesan pada diri setiap orang yang menerimanya.
Sekarang poin penting kedua yaitu orang tua.
Walaupun saya belum menjadi orang tua. Tapi saya akan menyentil sikap orang tua
tersebut. Tidak jujur kepada anak-anaknya. Membeli prestasi bukan suatu jalan
yang baik untuk melihat dan membanggakan prestasi anak. Ingin anaknya
berprestasi maka bimbinglah dengan baik. Bantu mereka untuk mencapainya dengan
cara yang baik pula. Agar apa yang mereka raih akan berkesan dan melatih mereka
untuk bersikap jujur dan professional.
Poin terakhir yaitu siswa. Untuk memperoleh satu
titik kesuksesan harusnya diraih dengan usaha dan doa. apabila diraih dengan
cara yang instan, yakinlah tidak akan ada motivasi bagi mereka meraih
prestasi-prestasi selanjutnya. Dan apa yang mereka terima tidak akan bertahan
lama.
Terbukti setelah menamatkan pendidikan di sekolah
dasar. Siswa yang melanjutkan ke sekolah menengah pertama bisa dihitung dengan
menggunakan jari. Hingga hanya tersisa 2 orang saja yang melanjutkan
pendidikannya ke tingkat perguruan tinggi. Alhamdulillah saya adalah 1 diantara
2 orang itu. teman-teman yang menjadi korban dari orang tua yang menghalalkan
cara yang tidak baik itu, tidak lagi melanjutkan pendidikannya. Bukan karena
orang tua yang tak mampu membiayai, tapi tidak ada motivasi dari orang tua
untuk anak-anaknya. Hal itu berbanding lurus dengan tidak ada kemauan dari
mereka untuk melanjutkan pendidikannya.
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk para pembaca,
sekian dan terima kasih dari saya :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar