Rabu, 22 Oktober 2014

Akibat Membeli Prestasi



                                                               Sumber Gambar: Google                                              

Teringat masa lalu waktu masih belajar di bangku sekolah dasar. Menjadi orang nomor satu diantara teman-teman adalah mimpi bagi setiap orang. Semua itu akan tercapai ketika mereka mau berusaha dengan belajar dan berdoa. Tapi kali ini saya akan menyampaikan ternyata ada juga usaha lain untuk mendapatkan prestasi. Saya akan sedikit menceritakan pengalaman pribadi tentang hal ini.

Langsung saja ceritanya di TKP hehehe :D

Waktu itu saya kelas 3 SD. pastinya telah melewati 2 kelas dibawahnya dengan prestasi di atas teman-teman. Prestasi itu menurun menjadi orang nomor 3 di kelas. Dengan penuh tanda tanya “ada apa gerangan?” berusaha mengevaluasi diri baik-baik. Diingat-ingat proses pembelajaran selama di kelas. Sama saja dengan proses selama 2 tahun terakhir. Belajar yang rajin. Menjadi yang paling beda dengan teman-teman sekelas. Sekali lagi ada apa?

Seberapa besar usaha si nomor 1 dan nomor 2? Entahlah saya tidak pernah tahu seberapa besar usaha mereka. Tapi kita bisa melihat semuanya, membaca semuanya melalui proses yang mereka jalani selama pembelajaran. Bukankah kita bisa melihat baik tidaknya suatu hasil melalui prosesnya?

Hal ini terungkap ketika ada bisik-bisik tetangga diantara para guru. katanya orang tua dari yang nomor 1 dan 2 mendatangi wali kelas dan memberikan uang dan bingkisan sebagai hadiah, Agar anak yang bersangkutan bisa menjadi nomor 1 di kelas.

Dilihat dari proses pembelajaran mereka selama di kelas itu tidak ada yang special. Saya bukan meninggikan diri atau bahkan merendahkan orang lain. Ketidakadilanlah yang membuat saya terpancing untuk melakukan hal ini. dimana diri kita sendiri lah yang dapat menilai seberapa besar usaha dan kemampuan kita dalam mencapai suatu titik kesuksesan. 

Hal yang seperti itu berlangsung bukan hanya selama di kelas 3 SD saja, ternyata berlanjut juga di kelas 4 SD yang sayangnya sikap gurunya sama. Menerima tawaran penghalalan suatu usaha.

Ada beberapa point penting yang menjadi suatu acuan dan merupakan pembelajaran bagi saya.
Yang pertama, seorang guru. Guru sudah dikenal dalam lagu Hymne Guru. Nyanyi bareng-bareng yuuk, 1…2…3
Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa

Waaaah suaranya bagus yaa hehehe. Prok prok prok  #tepokjidat :D

Lanjut ke pembahasan yang tadi. GURU, bisa dilihat dari lirik lagu di atas baris pertama. Bahwa guru adalah orang yang terpuji. Dan lirik 2 baris terakhir yaitu Guru adalah pahlawan bangsa tanpa tanda jasa.

2 hal penting dari lirik lagu itu akan saya hubungkan ke masalah di atas, bahwa guru adalah orang yang terpuji. Perilaku terpuji merupakan segala sikap, ucapan dan perbuatan yang baik yang sesuai ajaran Islam. Dari cerita di atas apakah sikap guru sudah masuk dalam sikap terpuji? Bukankan jujur adalah bagian dari sikap terpuji? 

Selanjutnya guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Dari cerita di atas apakah guru yang seperti itu dikatakan sebagai pahlawan? Mungkin itu namanya pahlawan penerima jasa, bukan pahlawan tanpa tanda jasa.

Dari kejadian itu saya mengambil pelajaran, kelak nanti saya akan menjadi seorang guru, walaupun hanya menjadi guru untuk anak-anak saya nanti #eh hehe. Saya tidak ingin menjadi guru yang harga dirinya bisa dibeli. Sikap tidak Professional yang dilakukan tidak hanya akan berdampak pada diri kita. Tapi juga pada anak didik kita. Dengan prestasi yang diperoleh secara  instan pastinya tidak akan melekat lama dan tidak akan terkesan pada diri setiap orang yang menerimanya.

Sekarang poin penting kedua yaitu orang tua. Walaupun saya belum menjadi orang tua. Tapi saya akan menyentil sikap orang tua tersebut. Tidak jujur kepada anak-anaknya. Membeli prestasi bukan suatu jalan yang baik untuk melihat dan membanggakan prestasi anak. Ingin anaknya berprestasi maka bimbinglah dengan baik. Bantu mereka untuk mencapainya dengan cara yang baik pula. Agar apa yang mereka raih akan berkesan dan melatih mereka untuk bersikap jujur dan professional. 

Poin terakhir yaitu siswa. Untuk memperoleh satu titik kesuksesan harusnya diraih dengan usaha dan doa. apabila diraih dengan cara yang instan, yakinlah tidak akan ada motivasi bagi mereka meraih prestasi-prestasi selanjutnya. Dan apa yang mereka terima tidak akan bertahan lama.

Terbukti setelah menamatkan pendidikan di sekolah dasar. Siswa yang melanjutkan ke sekolah menengah pertama bisa dihitung dengan menggunakan jari. Hingga hanya tersisa 2 orang saja yang melanjutkan pendidikannya ke tingkat perguruan tinggi. Alhamdulillah saya adalah 1 diantara 2 orang itu. teman-teman yang menjadi korban dari orang tua yang menghalalkan cara yang tidak baik itu, tidak lagi melanjutkan pendidikannya. Bukan karena orang tua yang tak mampu membiayai, tapi tidak ada motivasi dari orang tua untuk anak-anaknya. Hal itu berbanding lurus dengan tidak ada kemauan dari mereka untuk melanjutkan pendidikannya.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk para pembaca, sekian dan terima kasih dari saya :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar