Jumat, 31 Oktober 2014

Cerpen: Cemburu Membawa Berkah

Terdengar suara sesegukkan dari seberang sana.

“Maafkan aku Lisa, aku sangat mencintaimu. Aku begitu menyayangimu. Aku tahu begitu pula denganmu. Tapi maaf Lisa, aku tak sanggup menghadapi sikapmu yang terlalu cemburu dengan wanita itu. sedangkan aku tak sedikitpun berhubungan dengannya.

“Aku capek Lisa di setiap obrolan kita, selalu kau ungkit nama wanita itu. bukannya semua komentarnya di status fbku itu komentar yang biasa-biasa saja? Bukankah banyak teman-temanku melakukan hal yang sama pada statusku?"

Semakin terasa sesak hati wanita itu, semakin deras air bening yang membasahi pipinya. Ia sedikit mengatur nafas dan volume suaranya.

“Aku tak akan secemburu ini mas, aku tak akan selalu menyebut nama wanita itu di setiap obrolan kita jika wanita itu tak selalu mampir di setiap statusmu. Sikapnya padamu itu beda mas dengan sikap teman-temanmu. Apa itu hal yang biasa? Tak ingat kah kau kisah kita berawal dari komentar yang rutin di setiap statusmu dan statusku?

“Ingat mas! bukankan engkau pernah secemburu ini padaku? karena kau tak suka dengan sikap beberapa temanmu yang mendekatiku melalui social media. hingga memblock mereka adalah jalan keluarnya. Dan aku tak sedikitpun marah mas. Semua ini sangat tidak adil.”  jelasnya dengan suara yang semakin parau. Tangisnya semakin kencang, emosinya mulai meningkat.

“Maafkan aku Lisa, Aku sadar apa yang kita lakukan salah, kamu pasti mengerti itu. seakan-akan kita memaksakan Allah untuk menyatukan kita. Aku hanya akan mencintaimu apabila engkau telah halal bagiku, aku akan mencintaimu dalam ketaatan. Sekali lagi maafkan aku Lisa” suara lelaki itu melemah.

Tak ada suara  wanita itu dari seberang sana, hening. Hanya suara motor yang sesekali lewat. “Haloo Lisa? kau masih di sana? Haloo Lisa apa kau mendengarkanku?”

“I I iya.. iya mas Arga, aku masih di sini, baiklah kalau itu menjadi inginmu, aku pergi. Maaf untuk kesalahanku selama ini, Assalamu’alaikum” telfon dimatikan tanpa sedikit mendengarkan balasan salam dari laki-laki itu.

Tubuhnya melemah. Gemetar. Air bening dari matanya terus mengalir. Handphone dalam genggamannya seketika jatuh ke lantai, pecah berserakan.

“Aku tak percaya dia mengakhiri hubungan ini, apa maksudnya dengan hubungan yang salah? Untuk bertemu saja kita tak pernah. Bukankah dia yang selalu berkata  karena dia percaya bahwa kita jodoh maka hubungan kita sampai sejauh ini? Ya Allah aku tak percaya dengan semua yang terjadi, ketika aku mulai mencintainya tapi ia memilih untuk pergi”. Tangisannya semakin kencang.

Waktu menunjukkan pukul 3 pagi, ia masih terjaga dengan mata yang semakin bengkak. Mengenang masa-masa menjalin cinta dengan lelaki yang bernama Arga itu, menyumpah-nyumpah wanita yang menjadi sumber dari masalah ini, menyumpah dirinya sendiri. Menyesali apa yang telah ia lakukan dan menyayangkan sikap Arga terhadapnya.

Ia mencari handphonenya, ia teringat akan kejadian tadi. segera dipungut dan diperbaiki handphonenya yang berserakan. Dinyalakan dan tak lama bergetar tanda pesan masuk. Dibuka pesan itu. tiba-tiba matanya kembali berlinang membaca pesan singkat itu.

Ya Allah Lisa, Mas sayang kamu dek”

Entah ada angin apa, Lisa segera bangkit dari duduknya, Meninggalkan handphonenya. Ia menuju kamar kecil dan segera berwudhu. mengenakan mukenah dan membentangkan sajadah. Di sepertiga malam ia menangis pada sang pemilik hati.

“Ya Allah aku mencintainya, jika Engkau berkenan pertemukan kami atas dasar cinta karenaMu, Kuatkan hati ini untuk menghadapi cobaan hati dariMu ya Rabb. Bantu aku memperbaiki diri ini” Lisa terisak dalam keheningan. Suaranya hilang bersama angin malam.

Ada ketenangan, ada kesejukan setelah melaksanakan sholat tahajud itu.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Ibadahnya semakin meningkat. Mulai dari Qiyamul Lail dan Dhuha setiap harinya. Tilawah yang ditargetkan 2 juz perhari, dan Ia terus menambah hafalan Al-Qur’annya.

Setelah sebulan berlalu Ia kembali membuka facebook. Karena kerinduannya pada Arga, Ia mampir ke profil laki-laki itu, dan masih sama, masih ada nama wanita itu dalam setiap status Arga. Perasaan Lisa begitu sesak, matanya kembali berair. Iapun segera menutup akun facebooknya.

”Ya Allah kuatkan aku, semoga pemandangan tadi tak akan mengurangi cintaku padaMu, Ya Allah pertemukan aku dengannya, aku mencintainya. Ya Allah jika setiap dhuha dan tahajud ada raka’at yang lebih dari 12 raka’at akan aku tunaikan. kuatkan hati ini ya Allah”

1 tahun berlalu, Amalan hariannya semakin lama semakin meningkat. Rasa cintaannya pada laki-laki itu semakin mendekatkan ia pada Allah. Tahajud dan Dhuha yang dilakukan rutin setiap hari. Hafalannya yang mencapai lebih  dari 1 juz.

Hingga di sepertiga malam berikutnya, ia terkenang dengan apa yang diucapkan oleh laki-laki itu “Aku sadar apa yang kita lakukan salah, kamu pasti mengerti itu. seakan-akan kita memaksakan Allah untuk menyatukan kita.” Ia pun tersadar dalam lamunannya. Segera ia beristigfar, Tanpa berpikir panjang ia langsung melaksanakan sholat tahajud memohon ampunan. Dalam tahajudnya ia menangis tersedu-sedu.

“Wahai diri
Jika kau mencintainya karena Allah
Cintailah ia dengan cara yang benar
Cintailah ia pada saat yang tepat
Cintailah ia dengan sebenar-benarnya cinta…

“Ya Rabb,
Aku tak akan lagi memaksakan diri hanya untuk sebuah perasaan
Jika memang dia jiwa yang kau pilihkan berikan kami jalan
Jika memang dia takdir yang Kau tetapkan sampaikan rinduku dengan caraMu
Jika memang dia yang kau siapkan untukku, 
pantaskan Aku untuknya dan pantaskan ia untukku.

“Ya Rabb
Aku titipkan hati ini padaMu
Berikanlah pada orang yang namanya tertulis di Lauh Mahfudz
Berikanlah pada orang yang melabuhkan cintanya padaMu
Berikan padanya, seseorang yang ku pilih.

“Ya Rabb,
Jika memang dia bagus untukku, Bagus untuk agamaku
Satukanlah kami dengan pita cintaMu
Jika dia memang penyempurna agamaku
Pengisi sela-sela jariku
Hadiahkan hatiku untuknya dan buatlah ia mencintaiku.

“Ya Rabb,
Jika ada dua pilihan diantaranya adalah dia, pilihkan dia untukku
Jika ada sepuluh pilihan dan di antaranya adalah dia, pilihkan dia untukku
Jika ada seratus pilihan dan di antaranya adalah dia, pilihkan dia untukku
Dan jika hanya ada satu pilihan namun tidak ada dia dalam pilihan itu
Maka aku akan lapang menerimanya
Sebagai bentuk pemberian terbesar-Mu
Karena Engkaulah yang Mahatahu
Karena Engkaulah pemilik takdirku
Karena Engkaulah yang memelihara diriku
Aku tak akan memaksakan hatiku pada yang bukan takdirku
Karena yang benar-benar ku cinta hanyalah Engkau ya Rabb.

“Ya Rabb,
Aku masih berharap dialah kekasih halalku
Yang Kau siapkan khusus untukku
Aku memilihnya dengan sebuah keyakinan.
Aku terima setiap ketetapanMu yang kau berikan
Aku terima segala suka dan duka yang menyertai
Aku bersedia ia jadikan aku sebagai tulang rusuknya
Aku bersedia dituntunnya, menjadi imamku
Aku bersedia menjadi pelita dan sandarannya.

“Ya Rabb,
Aku yakin takdirMu pasti
Aku yakin rencanaMu sangat terukur
Aku yakin rencanaMu yang terbaik
Aku yakin setiap ketetapanMu tidak ada yang salah
Maka aku pun harus yakin
Jika dia bukan jiwa yang Kau pilihakan untukku
Akan ada jiwa lain yang lebih pantas untukku
Untuk bertahta di hatiku.

“Ya Rabb,
Dengan segala kekuasaanMu, dengan segala kekuatanMu, dengan segala keagunganMu
Aku memohon kepadaMu
Kuatkalah hati ini saat ketetapanMu membuat hati ini terasa sempit
Tenangkan hati ini saat ketetapanMu membuat hati ini terasa berat
Sesungguhnya hanya dengan pertolongaMu, diri ini bisa menjalani semua ketentuanMu.

“Ya Rabb
Buatlah diriku mencintaiMu lebih dari segala makhluk yang telah engkau ciptakan
Buatlah diriku mencintai Rasulullah, karena Engkau pun mencintainya.
Aamiin”

Malam yang indah itu memberikan ketenangan dan keteduhan kepadanya, menambah kecintaannya pada Rabbnya.

Beberapa hari kemudian Lisa menerima telephone dari murobbinya,  diajaknya ia ke suatu restoran yang cukup mewah dan begitu tenang suasana di dalamnya.

“Maaf ustadzah, ada apa gerangan ustadzah mengajak saya ke tempat seperti ini, dan hanya berdua saja?” suara lisa begitu lembut

“Lisa, saya akan menyampaikan 2 hal padamu. Saya diundang ke suatu acara di suatu daerah. Sayangnya saya berhalangan untuk hadir karena anak saya sakit. Untuk itu apa kau berkenan mewakiliku pada acara itu? acaranya 2 hari lagi” segurat senyum tergambar dari wajah ustadzah itu.
“Insya Allah ustadzah saya bisa dengan senang hati” jawab Lisa dengan membalas senyumnya.
Terkadang Lisa sulit menolak permintaan murobbinya, selagi Ia mampu maka akan ia lakukan, karena ketsiqohannya pada sosok murobbinya.
“Terus yang ke dua apa ustadzah?” lanjutnya penasaran.
“Apa yang akan kau lakukan jika telah tiba seorang pemuda yang ingin meminangmu?”
“Maaf ustadzah, maksudnya apa?” Lisa tersentak kaget. Baru kali ini beliau membahas soal itu.
“Begini Lisa, ada seorang pemuda yang ingin mengkhitbahmu, jika kau mau maka akan aku bantu prosesnya”
Tanpa bertanya siapa dan apa latar belakang pemuda itu. Lisa buru-buru menjawabnya.
“Ma... maaf ustadzah, aku belum siap untuk itu” jawabnya tertunduk.
“Kau tidak harus menjawabnya sekarang sayangku, kau bisa menjawabnya nanti jika kau sudah siap dengan lamaran itu.” jelasnya dengan tersenyum
“Maafkan aku ustadzah” jawabnya lagi. Rasa bersalah mulai merasukinya. Tak pernah sekalipun ia menolak permintaan atau tawaran dari murobbinya.
“Gak apa-apa anakku, tapi apalagi yang kau tunggu? Kau sudah menyelesaikan studimu, kau sudah punya usaha sendiri. Kau sudah bisa mempekerjakan beberapa karyawanmu. Apalagi yang kau tunggu anakku?”
“Maafkan aku ustadzah, aku belum siap untuk hal itu” Ia masih bersikukuh dengan jawabannya. Entah apa yang menjadi penghalangnya. Sosok Arga masih terjaga dalam hatinya.
Pertemuan itu berakhir dengan tawaran kedua yang ditolak oleh Lisa. Sang murobbi tak mau memaksakan kehendaknya. Ia mengerti bagaimana perasaan Lisa, tapi Ia tak tahu bahwa ada laki-laki lain yang menjadi alasan mengapa Lisa menolak tawarannya.

2 hari kemudian ia sudah berada di daerah itu untuk menghadiri undangan. Skenario Allah benar-benar indah, Tak disangka ia bertemu dengan lelaki yang bernama Arga, laki-laki yang amat dicintainya. Bahagia merasuki hati Lisa. Saking bahagianya ia gugup saat laki-laki itu menghampirinya.

“Lisa?” wajah bahagia arga terlihat jelas.
“Iya Mas” sambil menundukkan pandangannya.
“Kamu benar lisa kan? Kamu apa kabar? Sudah lama ya kita gak ngobrol”
Jantung Lisa berdegup kencang, pandangannya mulai tidak teratur, sekali dua kali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Baik mas” jawabnya singkat
“kamu ikut acara ini juga? Gak nyangka ya kita bisa bertemu di acara ini”
“Iya mas” Jawab Lisa masih tertunduk.
Laki-laki itu mengambil sesuatu dari tasnya, dan ternyata sebuah undangan berwarna cream. Itu undangan apa? Undangan siapa? Gumamnya dalam hati. Rasa khawatir semakin kuat.
“Mas punya undangan buat kamu, 2 minggu lagi mas walimah” jelasnya
“e e.. oh iya terima kasih, dengan siapa mas?” Lisa begitu gugup
“Dengan Dewi Lis” Sambil menyodorkan undangan.
Lisa menerima undangan itu, bergetar hatinya. Begitu sesak rasanya. Matanya mulai berkaca-kaca, dan masih dalam keadaan tertunduk.
“Mas tahu kamu pasti gak bisa hadir, karena jarak yang teramat jauh. Mohon doa restunya ya, mas ke dalam dulu. Assalamu’alaikum” Arga berlalu tanpa sedikitpun merasa curiga. dia benar-benar tidak menyadari bahwa saat mendengar berita itu Lisa menjadi terpaku seperti batu. Diam seribu bahasa. Dia juga tidak tahu bahwa Lisa sangat mencintai dan menantinya hingga saat ini.

Lisa memandang lamat-lamat undangan pernikahan itu. “Dewi? Dewi wanita yang selama ini selalu menghiasi facebook mas Arga, wanita yang selalu ku sebut dalam setiap obrolanku dengan mas Arga. Dia.. dia akan menjadi istri mas Arga?”. Gumamnya dalam hati.  Titik air itu pun jatuh membasahi pipinya. Ia pun berlalu mencari mushola di gedung itu.

Begitu sesak rasanya, dalam sholatnya ia tak kuasa menahan tangis. Penantian yang sia-sia, hanya berujung pada kehilangan. Matanya lebam meradang.

“Ya Rabb, inikah jawaban atas doa-doaku? Inikah jawaban atas penantianku? Kuatkan aku untuk menghadapi Skenario baru yang telah Engkau tuliskan. Ya Rabbi laki-laki itu akan menikah dengan wanita yang aku khawatirkan selama ini. jangan buat ujian ini hanya akan menjauhkanku darimu” Tangisnya pecah dalam musholah kecil itu. dan baru bisa tenang beberapa menit kemudian. Setelah usai melaksanakan sholat ia mencoba menenangkan diri.

Lisa, Tak usah khawatir jika dia bukan jiwa yang dipilihkanNya untukmu
Karena yang terbaik pasti akan terwujud
Hanya waktu yang akan menjadi saksi kekuasaanNya
Tak usah memaksakan jika kau memang bukan untuk dirinya
Karena pasti dia bukan yang terbaik untukmu.

Lisa, biarkan pahatNya yang mengukir takdir, biarkan kuasaNya yang melukis kisah manis.
Biarkan tanganNya yang meramu, semoga dia bahagia dengan pilihannya

Ia terus menenangkan dirinya, sekitar sejam dalam musholah. Dan berlalu ke tempat acara. Lebih tenang dari sebelumnya, ia menganggap seperti tak ada yang terjadi hingga di akhir acara. Berpamitan dengan teman-teman peserta, termasuk Arga. Dan kembali ke kampung halaman.

Ada pelajaran baru yang telah ia dapatkan selama ini, benar kata mas Arga bahwa “kita tidak bisa memaksakan Allah untuk menyatukan kita”. Karena Allah akan pilihkan pasangan yang terbaik untuk kita. Ada segurat senyum dan setetes embun yang membasahi pipinya. Ternyata ini benar-benar skenario yang telah Allah tunjukan. Alhamdulillah…

2 minggu berlalu, Arga telah menikah dengan wanita itu. Sedang Lisa? Lisa hanya sibuk dengan pegawainya. Usahanya semakin meningkat pesat. Pesanan demi pesanan mulai membanjiri kantornya. Kesibukan itu membuat ia lupa dengan masalah Arga.

Beberapa jam kemudian handphonenya berdering, seorang wanita mengajaknya bertemu. Wanita itu adalah murobbinya. Beliau menanyakan acara 2 minggu yang lalu, kemudian menawarkan hal yang sama padanya. Lisa hanya terdiam. Tanpa ditawari berulang-ulang, Ia yakin dan menerima tawaran itu. Bismillah…

Persiapan pernikahannya tak terlalu lama, Ta’aruf, Khitbah dan Walimatul ursy berjalan dengan lancar tanpa sedikitpun hambatan. Hingga di malam pertama di kamar pengantin yang begitu indah itu...

“Dik, kita sholat 2 raka’at dulu ya” ajak suaminya dengan lembut.
“Iya mas” ia mengikuti.
Setelah sholat, Lisa mencium tangan suaminya. Dan suaminya membalas dengan mencium keningnya.
“Mas Reza capek? Lisa pijitin ya?” senyumnya merekah.
“boleh sayang” balasnya.
Tak lama lisa memijit bahu suaminya, tiba-tiba mas Reza memintanya untuk berhenti. Dan berbalik arah melihat wajah cantik istrinya.
 “Dik, sebenarnya dari dulu mas mulai mengagumimu. Mas selalu meminta kepada Allah agar bisa disatukan denganmu, 2 tahun yang lalu mas melihatmu pada agenda kampus. Mas meminta untuk dihadiahkan kamu dalam hidup mas. Dari dulu mas ingin mengungkapkannya padamu, tapi mas tidak ingin kau terganggu dengan rasa ini, mas urungkan niat itu dalam penantian selama 2 tahun lamanya. Dan melalui murobbimu lah mas memulai semuanya. Mas yakin kalau kita jodoh pasti akan dimudahkan, walaupun awalnya kau menolak. Tapi usaha mas melalui murobbimu tak berhenti sampai di situ. Semua karena rasa cinta yang tulus untukmu, semua mas niatkan karena cinta mas pada Penciptamu sayangku, karena kau dan mas adalah milikNya”.

Seketika Lisa menangis, menyadari bahwa skenario Allah itu benar-benar indah. Ia terlalu sibuk memikirkan Arga, dan lupa bahwa kelak akan Allah hadirkan sosok yang tulus mencintainya, dengan segala usaha yang ia lakukan. Dan dia percaya bahwa jodoh seseorang adalah cerminan dari dirinya. Penantian yang sia-sia digantikan dengan keindahan. Semua berawal dari cemburu. Skenario Allah memang indah, Cemburu membawa berkah. Hingga cinta yang tulus dari insan yang  mencintainya adalah hadiah dari Allah untuknya.
“Aku Mencintaimu mas” air matanyanya diusap lembut oleh suaminya.
“Aku pun demikian sayangku” balasnya dengan kehangatan.

Malam itu begitu indah, ketentuan hukum alam sesungguhnya telah diterapkan Allah sejak dulu kala. Begitu juga perputaran waktu. Allah menggariskannya. Malam yang begitu indah dirasakan oleh 2 insan yang saling mencinta. Hingga Allah dan para malaikatNya tersenyum  melihat sepasang kekasih itu.

Sabtu, 25 Oktober 2014

Rahasia Hati

Entah apa yang selalu menghantuiku akhir-akhir ini, ingin ku ungkapkan tapi begitu takut rasanya jika akal menolak untuk menyampaikannya.

Duhai hati, rahasia apa yang kau simpan hingga yang lainnya bertanya bingung tentangmu?

“Aku merindukannya ya Rabbi, aku tak dapat menutupinya. Adakah rindu yang sama walau hanya secuil? Adakah air mata yang sama memohon penawarnya?”

Hati yang terus bertutur menyebut suatu  nama pada setiap sepertiga malamMu, Tak henti-hentinya bertasbih memohon keridhoanMu agar rindu ini Engkau berikan penawarnya.

Ya Muqollibal qulub, ketika rindu ini hanya menimbulkan keresahan pada hati, hanya kepadaMu ku kembalikan semuanya hingga ketenangan adalah gantinya.

Ya Mutakabbir,  jika kerinduan ini hanya akan menjauhkanku dariMu. Hilangkan rindu itu dariku, dan Besarkan Rinduku untuk bertemu denganMu pada setiap malamMu.

Ya Mujib, tetapkanlah hati dan rindu ini pada orang yang tepat, pertemukan ia atas dasar cinta karenaMu

Ya Khaliq, Terima kasih untuk semua cinta yang telah Engkau karuniakan pada hambaMu yang terlalu banyak mengkhianatiMu. Ku titipkan semuanya padaMu, hingga tiba masanya untuk berlabuh.

Kamis, 23 Oktober 2014

Guru yang Nyebelin

Guru adalah profesi yang terpuji, Selain membuat anak-anak pintar, seorang guru akan selalu mendapat kiriman pahala dari murid-muridnya walau ia sudah meninggal.

Dari penjelasan di atas begitu mulianya seorang guru, tapi kok judulnya guru yang nyebelin?

Iya mari kita bahas satu per satu mengapa saya menggunakan judul itu.

Saya menulis hal ini karena status saya sebagai seorang peserta didik dan sebagai calon guru hehe Aamiin.

Oke langsung saja, guru yang nyebelin itu seperti apa?

Yang pertama, guru yang suka marah-marah. Siswa yang sedikit salah saja bisa segunung omelannya. Masalah siswa hari ini tapi disangkut pautkan dengan masalah siswa 2 minggu yang lalu, bahkan masalah tahun lalu pun dikaitkan dengan masalah hari ini dan lebih parahnya lagi ada masalah siswa yang lain dihubungkan ke siswa yang sekarang bermasalah. #CapekDeh.  Guru yang seperti ini akan dijauhi oleh siswa, artinya siswa paling anti dengan karakternya. jika hanya ingin disegani siswa, bukan dengan cara yang seperti ini, hanya akan ada kebencian bagi para siswa. apalagi diomenlin di depan orang banyak. malunya bisa selangit.

Yang kedua, guru yang suka banget ngasih tugas, ingat ya ketika seorang guru sering memberikan tugas, guru itu akan mendapat gelar khusus dari siswa “si Guru Tugas”. Itu fakta. Apalagi kalau tugasnya merangkum buku dari bab 1 sampai bab 6, menjawab soal dari nomor 1 sampai nomor 250. Para siswa stres pastinya, apalagi tugasnya dikasih hari ini dan dikumpul besok. Wkwkwk gak banget deh.

Yang ketiga, jangan jadi guru yang suka manfaatin dan membebani siswa. Ada juga guru yang dimana-mana suka memanfatkan siswanya. Misalnya siswa diminta wajib bawa bunga skalian sama potnya. Siswa diminta buat nyiapin konsumsi untuk acara sekolahan. Siswa diminta membungkus buku-buku perpustakaan sekolah. Siswa diminta membawa sapu. Dan masih banyak lagi hal-hal yang membebani siswa. Membebani yang saya maksud di sini adalah, membebani ekonomi siswa. Hal-hal yang seharusnya ditanggung oleh sekolah malah siswa yang harus menanggungnya.

Hal itu yang sangat dibenci oleh siswa, termasuk saya. Buat apa coba wajib bawa bunga? Kalau yang gak ada bunga di rumahnya gimana? Terus siswa diminta untuk menyiapkan konsumsi untuk acara sekolah, acara sekolah tapi kok siswa yang diminta untuk menanggungnya? Kasihan orang tua yang banting tulang mencari nafkah di rumah, kita gak tau mungkin ada siswa yang orang tuanya mencari nafkah dan penghasilannya itu hanya cukup untuk makan sehari. Tapi dengan entengnya guru meminta siswa untuk menyiapkan ini itu. dan masih banyak lagi yang dimanfaatkan oleh guru pada siswa-siswanya.

Kewajiban siswa di sekolah adalah untuk belajar, begitu pula dengan guru mendidik siswa sesuai bidangnya masing-masing, bukan dengan memanfaatkan dan membebani siswa.

Yang keempat, guru yang suka menghukum dengan main fisik. Aduh ini gak banget deh. Ada guru yang sedikit-sedikit main tampar, nyubit sampai biru, memukul pakai rotan, kayu, dan pohon skalian hehe. Ingat! Siswa bukan anak kandung kita yang seenaknya dipukul, mereka adalah tanggung jawab kita yang harusnya kita didik dengan baik. Berilah hukuman yang menimbulkan efek jera, yang mendidik dan gak sampai memukul. Sekarang jika kita main fisik, kita bisa berurusan dengan pihak yang berwajib. HATI-HATI!

Hukuman yang menimbulkan efek jera misalnya membersihkan toilet, mengumpul sampah-sampah di halaman sekolah sebanyak 100 buah, dan masih banyak lagi. Bukan dengan cara memukul.

Yang kelima, guru yang setiap materinya diskusi melulu, sekalipun materi yang harusnya butuh penjelasan guru tapi dihajar pake diskusi, metode pembelajaran seperti ini yang super-super menyebalkan. Bayangin aja (bayangin dulu deh) hehe, bayangin aja misalnya materi stoikiometri itu diminta untuk berdiskusi wkwkwk. Itu ibarat makan kedondong sama bijinya #eh gak nyambung ya? Hehe. Entahlah yang pasti itu akan sangat membosankan.

Yang keenam, mungkin sama dengan yang diatas, yaitu metode pembelajaran yang sangat tidak menarik. dari pertemuan pertama sampai akhir semester ada seorang siswa diminta menulis terus di papan dan yang lainnya ikut mencatat. Lah kalau gini caranya, gurunya kapan ngajarnya?

Yang ketujuh, guru yang setiap ia masuk kelas pasti siswanya tegang. Baru masuk tiba-tiba langsung main nunjuk dan wajib jawab pertanyaan darinya. Kalau gak bisa menjawab akan dihukum. Kalau saya jadi seorang siswa dan ketika masuk guru yang seperti itu, itu rasanya nafas sudah berkumpul di tenggorokan dan gak mau keluar. Tegang. Sampai-sampai ketegangan itu masih terasa, gemetar walaupun pelajaran sudah selesai hehe.

yang terakhir adalah guru yang tidak menerima pendapat siswa. seakan apa yang ia lakukan selalu benar, selalu menyalahkan tanpa ada dasar yang kuat. 

Itu dari saya beberapa ciri-ciri guru yang menyebalkan. Dan Mungkin masih banyak lagi, tapi takut kebanyakan nanti pembacanya bosan. Hehehe guru dengan ciri-ciri di atas  hanya akan menimbulkan penyakit hati bagi para siswa.


Pesan saya untuk para guru dan khususnya untuk saya sendiri. Jangan jadi guru yang nyebelin! Jadilah guru yang baik. kreatif. Setiap pertemuan dengannya ada kehangatan di dalamnya. Dan setiap jam pelajarannya akan selalu dirindukan oleh siswa, dengan metode pembelajaran menarik dan tidak membosankan. :) 

Rabu, 22 Oktober 2014

Aku dan MITI (Mengenalnya dan Mulai Mencintainya)



“MITI singkatan dari Masyarakat Ilmuan dan Teknolog Indonesia. MITI adalah suatu Jaringan keilmuan yang memiliki tujuan memperkuat pembentukan mahasiswa yang kompeten, profesional, dan kontributif. MITI juga sebagai penggerak bagi mahasiswa agar dapat berkarya dan aktif dalam pembangunan Indonesia.”
Kutipan di atas merupakan penjelasan singkat dari seorang murobbi dalam sebuah lingkaran kecil. Hal itu diungkapkan berdasarkan satu pertanyaan yang diawali dengan penjelasan singkat tentang suatu lembaga dakwah ilmi yang berada di Fakultas MIPA UNG. yaitu Math and Science Club yang katanya lembaga tersebut bermitra dengan MITI. Oleh sebab itu pertanyaan itu muncul “MITI ITU APA?”.
Penjelasan singkat, padat dan jelas di atas memberikan suatu pandangan pada diri bahwa MITI adalah suatu lembaga keilmuan mahasiswa bertaraf nasional yang kreatif, inovatif serta professional dan pastinya kaya akan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Hal itu terbukti dengan adanya agenda besar Temu MITI Wilayah Sulawesi 2012 oleh Math and Science Club di Universitas Negeri Gorontalo. Saya adalah salah satu panitia pelaksana agenda tersebut. Dalam temu wilayah itu diantaranya Seminar Nasional IPTEK “Sosiotechnopreneurship”, Seminar Beasiswa S1,S2,dan S3, Training RCDC, dan Training Lembaga Akademis, dengan tema Meningkatkan penguasaan teknologi dalam mewujudkan kemandirian bangsa dan peningkatan kesejahteraan masyarakat yg berkelanjutan”.  Yang dihadiri oleh 3 orang perwakilan dari MITI, salah satunya adalah Bapak Dr. Edi Sukur. Dalam materinya beliau menyampaikan bahwa “Mahasiswa menjadi agen penting yang bersifat netral, yang mampu menjalin kerjasama baik dengan pemerintah, privat, dan masyarakat. Mahasiswa tersebut mempunyai peran penting untuk menerapkan teknologi tepat guna untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara finasial.”
Agenda itu membuktikan bahwa MITI adalah suatu lembaga yang memiliki tujuan untuk membangun dan mengembangkan kompetensi mahasiswa dalam menegakkan keadilan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Tidak hanya itu agenda MITI yang pernah saya ikuti, ada juga agenda MITI PAPER CHALLENGE yang bertujuan untuk meningkatkan aktualisasi pemahaman keilmuan mahasiswa dalam pembuatan jurnal ilmiah di tingkat Nasional. Walaupun tak meraih juara tapi sudah berusaha mencari pengalaman dalam agenda MITI itu adalah hal yang luar biasa.
Siapa yang tak mengenal MITI? Dan Siapa yang tidak mau menjadi bagian dari MITI? Pasti semua orang mau menjadi bagian dari MITI, menjadi bagian dari MITI adalah suatu kebanggan bagi setiap mahasiswa yang memiliki satu jalan pikiran yang sama dalam mensejahterakan rakyat Indonesia. Berkontribusi dalam setiap agendanya. menjadi bagian dari orang-orang luar biasa adalah harapan saya sebagai seorang mahasiswa.
Selain itu harapannya dengan adanya MITI  seperti pada visinya bahwa akan membentuk mahasiswa yang kompeten, profesional, dan kontributif. Agar berkarya lebih nyata dan berperanserta aktif dalam pembangunan, baik daerah maupun nasional. Karena menjadi mahasiswa yang bermanfaat bagi orang lain adalah sebaik-baik mahasiswa.
Dalam hadist riwayat Thabrani dan Daruquthni bahwa ”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.”

Akibat Membeli Prestasi



                                                               Sumber Gambar: Google                                              

Teringat masa lalu waktu masih belajar di bangku sekolah dasar. Menjadi orang nomor satu diantara teman-teman adalah mimpi bagi setiap orang. Semua itu akan tercapai ketika mereka mau berusaha dengan belajar dan berdoa. Tapi kali ini saya akan menyampaikan ternyata ada juga usaha lain untuk mendapatkan prestasi. Saya akan sedikit menceritakan pengalaman pribadi tentang hal ini.

Langsung saja ceritanya di TKP hehehe :D

Waktu itu saya kelas 3 SD. pastinya telah melewati 2 kelas dibawahnya dengan prestasi di atas teman-teman. Prestasi itu menurun menjadi orang nomor 3 di kelas. Dengan penuh tanda tanya “ada apa gerangan?” berusaha mengevaluasi diri baik-baik. Diingat-ingat proses pembelajaran selama di kelas. Sama saja dengan proses selama 2 tahun terakhir. Belajar yang rajin. Menjadi yang paling beda dengan teman-teman sekelas. Sekali lagi ada apa?

Seberapa besar usaha si nomor 1 dan nomor 2? Entahlah saya tidak pernah tahu seberapa besar usaha mereka. Tapi kita bisa melihat semuanya, membaca semuanya melalui proses yang mereka jalani selama pembelajaran. Bukankah kita bisa melihat baik tidaknya suatu hasil melalui prosesnya?

Hal ini terungkap ketika ada bisik-bisik tetangga diantara para guru. katanya orang tua dari yang nomor 1 dan 2 mendatangi wali kelas dan memberikan uang dan bingkisan sebagai hadiah, Agar anak yang bersangkutan bisa menjadi nomor 1 di kelas.

Dilihat dari proses pembelajaran mereka selama di kelas itu tidak ada yang special. Saya bukan meninggikan diri atau bahkan merendahkan orang lain. Ketidakadilanlah yang membuat saya terpancing untuk melakukan hal ini. dimana diri kita sendiri lah yang dapat menilai seberapa besar usaha dan kemampuan kita dalam mencapai suatu titik kesuksesan. 

Hal yang seperti itu berlangsung bukan hanya selama di kelas 3 SD saja, ternyata berlanjut juga di kelas 4 SD yang sayangnya sikap gurunya sama. Menerima tawaran penghalalan suatu usaha.

Ada beberapa point penting yang menjadi suatu acuan dan merupakan pembelajaran bagi saya.
Yang pertama, seorang guru. Guru sudah dikenal dalam lagu Hymne Guru. Nyanyi bareng-bareng yuuk, 1…2…3
Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa

Waaaah suaranya bagus yaa hehehe. Prok prok prok  #tepokjidat :D

Lanjut ke pembahasan yang tadi. GURU, bisa dilihat dari lirik lagu di atas baris pertama. Bahwa guru adalah orang yang terpuji. Dan lirik 2 baris terakhir yaitu Guru adalah pahlawan bangsa tanpa tanda jasa.

2 hal penting dari lirik lagu itu akan saya hubungkan ke masalah di atas, bahwa guru adalah orang yang terpuji. Perilaku terpuji merupakan segala sikap, ucapan dan perbuatan yang baik yang sesuai ajaran Islam. Dari cerita di atas apakah sikap guru sudah masuk dalam sikap terpuji? Bukankan jujur adalah bagian dari sikap terpuji? 

Selanjutnya guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Dari cerita di atas apakah guru yang seperti itu dikatakan sebagai pahlawan? Mungkin itu namanya pahlawan penerima jasa, bukan pahlawan tanpa tanda jasa.

Dari kejadian itu saya mengambil pelajaran, kelak nanti saya akan menjadi seorang guru, walaupun hanya menjadi guru untuk anak-anak saya nanti #eh hehe. Saya tidak ingin menjadi guru yang harga dirinya bisa dibeli. Sikap tidak Professional yang dilakukan tidak hanya akan berdampak pada diri kita. Tapi juga pada anak didik kita. Dengan prestasi yang diperoleh secara  instan pastinya tidak akan melekat lama dan tidak akan terkesan pada diri setiap orang yang menerimanya.

Sekarang poin penting kedua yaitu orang tua. Walaupun saya belum menjadi orang tua. Tapi saya akan menyentil sikap orang tua tersebut. Tidak jujur kepada anak-anaknya. Membeli prestasi bukan suatu jalan yang baik untuk melihat dan membanggakan prestasi anak. Ingin anaknya berprestasi maka bimbinglah dengan baik. Bantu mereka untuk mencapainya dengan cara yang baik pula. Agar apa yang mereka raih akan berkesan dan melatih mereka untuk bersikap jujur dan professional. 

Poin terakhir yaitu siswa. Untuk memperoleh satu titik kesuksesan harusnya diraih dengan usaha dan doa. apabila diraih dengan cara yang instan, yakinlah tidak akan ada motivasi bagi mereka meraih prestasi-prestasi selanjutnya. Dan apa yang mereka terima tidak akan bertahan lama.

Terbukti setelah menamatkan pendidikan di sekolah dasar. Siswa yang melanjutkan ke sekolah menengah pertama bisa dihitung dengan menggunakan jari. Hingga hanya tersisa 2 orang saja yang melanjutkan pendidikannya ke tingkat perguruan tinggi. Alhamdulillah saya adalah 1 diantara 2 orang itu. teman-teman yang menjadi korban dari orang tua yang menghalalkan cara yang tidak baik itu, tidak lagi melanjutkan pendidikannya. Bukan karena orang tua yang tak mampu membiayai, tapi tidak ada motivasi dari orang tua untuk anak-anaknya. Hal itu berbanding lurus dengan tidak ada kemauan dari mereka untuk melanjutkan pendidikannya.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk para pembaca, sekian dan terima kasih dari saya :)