Terdengar suara sesegukkan dari
seberang sana.
“Maafkan aku
Lisa, aku sangat mencintaimu. Aku begitu menyayangimu. Aku tahu begitu pula
denganmu. Tapi maaf Lisa, aku tak sanggup menghadapi sikapmu yang terlalu
cemburu dengan wanita itu. sedangkan aku tak sedikitpun berhubungan dengannya.
“Aku capek Lisa
di setiap obrolan kita, selalu kau ungkit nama wanita itu. bukannya semua
komentarnya di status fbku itu komentar yang biasa-biasa saja? Bukankah banyak
teman-temanku melakukan hal yang sama pada statusku?"
Semakin terasa
sesak hati wanita itu, semakin deras air bening yang membasahi pipinya. Ia
sedikit mengatur nafas dan volume suaranya.
“Aku tak akan
secemburu ini mas, aku tak akan selalu menyebut nama wanita itu di setiap
obrolan kita jika wanita itu tak selalu mampir di setiap statusmu. Sikapnya
padamu itu beda mas dengan sikap teman-temanmu. Apa itu hal yang biasa? Tak
ingat kah kau kisah kita berawal dari komentar yang rutin di setiap statusmu
dan statusku?
“Ingat mas!
bukankan engkau pernah secemburu ini padaku? karena kau tak suka dengan sikap
beberapa temanmu yang mendekatiku melalui social media. hingga memblock mereka
adalah jalan keluarnya. Dan aku tak sedikitpun marah mas. Semua ini sangat
tidak adil.” jelasnya dengan suara yang
semakin parau. Tangisnya semakin kencang, emosinya mulai meningkat.
“Maafkan aku
Lisa, Aku sadar apa yang kita lakukan salah, kamu pasti mengerti itu.
seakan-akan kita memaksakan Allah untuk menyatukan kita. Aku hanya akan mencintaimu
apabila engkau telah halal bagiku, aku akan mencintaimu dalam ketaatan. Sekali
lagi maafkan aku Lisa” suara lelaki itu melemah.
Tak ada
suara wanita itu dari seberang sana,
hening. Hanya suara motor yang sesekali lewat. “Haloo Lisa? kau masih di sana?
Haloo Lisa apa kau mendengarkanku?”
“I I iya.. iya
mas Arga, aku masih di sini, baiklah kalau itu menjadi inginmu, aku pergi. Maaf
untuk kesalahanku selama ini, Assalamu’alaikum” telfon dimatikan tanpa sedikit
mendengarkan balasan salam dari laki-laki itu.
Tubuhnya melemah. Gemetar. Air
bening dari matanya terus mengalir. Handphone dalam genggamannya seketika jatuh
ke lantai, pecah berserakan.
“Aku tak percaya
dia mengakhiri hubungan ini, apa maksudnya dengan hubungan yang salah? Untuk
bertemu saja kita tak pernah. Bukankah dia yang selalu berkata karena dia percaya bahwa kita jodoh maka
hubungan kita sampai sejauh ini? Ya Allah aku tak percaya dengan semua yang
terjadi, ketika aku mulai mencintainya tapi ia memilih untuk pergi”.
Tangisannya semakin kencang.
Waktu
menunjukkan pukul 3 pagi, ia masih terjaga dengan mata yang semakin bengkak.
Mengenang masa-masa menjalin cinta dengan lelaki yang bernama Arga itu,
menyumpah-nyumpah wanita yang menjadi sumber dari masalah ini, menyumpah
dirinya sendiri. Menyesali apa yang telah ia lakukan dan menyayangkan sikap
Arga terhadapnya.
Ia mencari
handphonenya, ia teringat akan kejadian tadi. segera dipungut dan diperbaiki
handphonenya yang berserakan. Dinyalakan dan tak lama bergetar tanda pesan
masuk. Dibuka pesan itu. tiba-tiba matanya kembali berlinang membaca pesan
singkat itu.
“Ya Allah Lisa, Mas sayang kamu dek”
Entah ada angin
apa, Lisa segera bangkit dari duduknya, Meninggalkan handphonenya. Ia menuju
kamar kecil dan segera berwudhu. mengenakan mukenah dan membentangkan sajadah.
Di sepertiga malam ia menangis pada sang pemilik hati.
“Ya Allah aku mencintainya, jika Engkau
berkenan pertemukan kami atas dasar cinta karenaMu, Kuatkan hati ini untuk
menghadapi cobaan hati dariMu ya Rabb. Bantu aku memperbaiki diri ini” Lisa
terisak dalam keheningan. Suaranya hilang bersama angin malam.
Ada ketenangan,
ada kesejukan setelah melaksanakan sholat tahajud itu.
Hari berganti
hari, minggu berganti minggu. Ibadahnya semakin meningkat. Mulai dari Qiyamul
Lail dan Dhuha setiap harinya. Tilawah yang ditargetkan 2 juz perhari, dan Ia
terus menambah hafalan Al-Qur’annya.
Setelah sebulan
berlalu Ia kembali membuka facebook. Karena kerinduannya pada Arga, Ia mampir
ke profil laki-laki itu, dan masih sama, masih ada nama wanita itu dalam setiap
status Arga. Perasaan Lisa begitu sesak, matanya kembali berair. Iapun segera
menutup akun facebooknya.
”Ya Allah kuatkan aku, semoga pemandangan
tadi tak akan mengurangi cintaku padaMu, Ya Allah pertemukan aku dengannya, aku
mencintainya. Ya Allah jika setiap dhuha dan tahajud ada raka’at yang lebih
dari 12 raka’at akan aku tunaikan. kuatkan hati ini ya Allah”
1 tahun berlalu,
Amalan hariannya semakin lama semakin meningkat. Rasa cintaannya pada laki-laki
itu semakin mendekatkan ia pada Allah. Tahajud dan Dhuha yang dilakukan rutin
setiap hari. Hafalannya yang mencapai lebih dari 1 juz.
Hingga di
sepertiga malam berikutnya, ia terkenang dengan apa yang diucapkan oleh
laki-laki itu “Aku sadar apa yang kita
lakukan salah, kamu pasti mengerti itu. seakan-akan kita memaksakan Allah untuk
menyatukan kita.” Ia pun tersadar dalam lamunannya. Segera ia beristigfar, Tanpa
berpikir panjang ia langsung melaksanakan sholat tahajud memohon ampunan. Dalam
tahajudnya ia menangis tersedu-sedu.
“Wahai diri
Jika kau
mencintainya karena Allah
Cintailah ia
dengan cara yang benar
Cintailah ia
pada saat yang tepat
Cintailah ia
dengan sebenar-benarnya cinta…
“Ya Rabb,
Aku tak akan
lagi memaksakan diri hanya untuk sebuah perasaan
Jika memang dia
jiwa yang kau pilihkan berikan kami jalan
Jika memang dia
takdir yang Kau tetapkan sampaikan rinduku dengan caraMu
Jika memang dia
yang kau siapkan untukku,
pantaskan Aku untuknya dan pantaskan ia untukku.
“Ya Rabb
Aku titipkan
hati ini padaMu
Berikanlah pada
orang yang namanya tertulis di Lauh Mahfudz
Berikanlah pada
orang yang melabuhkan cintanya padaMu
Berikan
padanya, seseorang yang ku pilih.
“Ya Rabb,
Jika memang dia
bagus untukku, Bagus untuk agamaku
Satukanlah kami
dengan pita cintaMu
Jika dia memang
penyempurna agamaku
Pengisi
sela-sela jariku
Hadiahkan
hatiku untuknya dan buatlah ia mencintaiku.
“Ya Rabb,
Jika ada dua
pilihan diantaranya adalah dia, pilihkan dia untukku
Jika ada
sepuluh pilihan dan di antaranya adalah dia, pilihkan dia untukku
Jika ada
seratus pilihan dan di antaranya adalah dia, pilihkan dia untukku
Dan jika hanya
ada satu pilihan namun tidak ada dia dalam pilihan itu
Maka aku akan
lapang menerimanya
Sebagai bentuk
pemberian terbesar-Mu
Karena
Engkaulah yang Mahatahu
Karena Engkaulah
pemilik takdirku
Karena
Engkaulah yang memelihara diriku
Aku tak akan
memaksakan hatiku pada yang bukan takdirku
Karena yang
benar-benar ku cinta hanyalah Engkau ya Rabb.
“Ya Rabb,
Aku masih
berharap dialah kekasih halalku
Yang Kau
siapkan khusus untukku
Aku memilihnya
dengan sebuah keyakinan.
Aku terima
setiap ketetapanMu yang kau berikan
Aku terima
segala suka dan duka yang menyertai
Aku bersedia ia
jadikan aku sebagai tulang rusuknya
Aku bersedia
dituntunnya, menjadi imamku
Aku bersedia
menjadi pelita dan sandarannya.
“Ya Rabb,
Aku yakin
takdirMu pasti
Aku yakin
rencanaMu sangat terukur
Aku yakin
rencanaMu yang terbaik
Aku yakin
setiap ketetapanMu tidak ada yang salah
Maka aku pun
harus yakin
Jika dia bukan
jiwa yang Kau pilihakan untukku
Akan ada jiwa
lain yang lebih pantas untukku
Untuk bertahta
di hatiku.
“Ya Rabb,
Dengan segala
kekuasaanMu, dengan segala kekuatanMu, dengan segala keagunganMu
Aku memohon
kepadaMu
Kuatkalah hati
ini saat ketetapanMu membuat hati ini terasa sempit
Tenangkan hati ini
saat ketetapanMu membuat hati ini terasa berat
Sesungguhnya
hanya dengan pertolongaMu, diri ini bisa menjalani semua ketentuanMu.
“Ya Rabb
Buatlah diriku
mencintaiMu lebih dari segala makhluk yang telah engkau ciptakan
Buatlah diriku
mencintai Rasulullah, karena Engkau pun mencintainya.
Aamiin”
Malam yang indah itu memberikan ketenangan dan
keteduhan kepadanya, menambah kecintaannya pada Rabbnya.
Beberapa hari kemudian Lisa menerima telephone dari
murobbinya, diajaknya ia ke suatu
restoran yang cukup mewah dan begitu tenang suasana di dalamnya.
“Maaf ustadzah, ada apa gerangan ustadzah mengajak
saya ke tempat seperti ini, dan hanya berdua saja?” suara lisa begitu lembut
“Lisa, saya akan menyampaikan 2 hal padamu. Saya
diundang ke suatu acara di suatu daerah. Sayangnya saya berhalangan untuk
hadir karena anak saya sakit. Untuk itu apa kau berkenan mewakiliku pada acara
itu? acaranya 2 hari lagi” segurat senyum tergambar dari wajah ustadzah itu.
“Insya Allah ustadzah saya bisa dengan senang hati”
jawab Lisa dengan membalas senyumnya.
Terkadang Lisa sulit menolak permintaan murobbinya,
selagi Ia mampu maka akan ia lakukan, karena ketsiqohannya pada sosok murobbinya.
“Terus yang ke dua apa ustadzah?” lanjutnya
penasaran.
“Apa yang akan kau lakukan jika telah tiba seorang
pemuda yang ingin meminangmu?”
“Maaf ustadzah, maksudnya apa?” Lisa tersentak kaget.
Baru kali ini beliau membahas soal itu.
“Begini Lisa, ada seorang pemuda yang ingin
mengkhitbahmu, jika kau mau maka akan aku bantu prosesnya”
Tanpa bertanya siapa dan apa latar belakang pemuda
itu. Lisa buru-buru menjawabnya.
“Ma... maaf ustadzah, aku belum siap untuk itu” jawabnya tertunduk.
“Kau tidak harus menjawabnya sekarang sayangku, kau bisa
menjawabnya nanti jika kau sudah siap dengan lamaran itu.” jelasnya dengan tersenyum
“Maafkan aku ustadzah” jawabnya lagi. Rasa bersalah
mulai merasukinya. Tak pernah sekalipun ia menolak permintaan atau tawaran dari
murobbinya.
“Gak apa-apa anakku, tapi apalagi yang kau tunggu? Kau
sudah menyelesaikan studimu, kau sudah punya usaha sendiri. Kau sudah bisa
mempekerjakan beberapa karyawanmu. Apalagi yang kau tunggu anakku?”
“Maafkan aku ustadzah, aku belum siap untuk hal itu”
Ia masih bersikukuh dengan jawabannya. Entah apa yang menjadi penghalangnya. Sosok
Arga masih terjaga dalam hatinya.
Pertemuan itu berakhir dengan tawaran kedua yang ditolak
oleh Lisa. Sang murobbi tak mau memaksakan kehendaknya. Ia mengerti bagaimana
perasaan Lisa, tapi Ia tak tahu bahwa ada laki-laki lain yang menjadi alasan mengapa
Lisa menolak tawarannya.
2 hari kemudian ia sudah berada di daerah itu untuk
menghadiri undangan. Skenario Allah benar-benar indah, Tak disangka ia bertemu
dengan lelaki yang bernama Arga, laki-laki yang amat dicintainya. Bahagia merasuki
hati Lisa. Saking bahagianya ia gugup saat laki-laki itu menghampirinya.
“Lisa?” wajah bahagia arga terlihat jelas.
“Iya Mas” sambil menundukkan pandangannya.
“Kamu benar lisa kan? Kamu apa kabar? Sudah lama ya
kita gak ngobrol”
Jantung Lisa berdegup kencang, pandangannya mulai
tidak teratur, sekali dua kali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Baik mas” jawabnya singkat
“kamu ikut acara ini juga? Gak nyangka ya kita bisa
bertemu di acara ini”
“Iya mas” Jawab Lisa masih tertunduk.
Laki-laki itu mengambil sesuatu dari tasnya, dan
ternyata sebuah undangan berwarna cream. Itu undangan apa? Undangan siapa?
Gumamnya dalam hati. Rasa khawatir semakin kuat.
“Mas punya undangan buat kamu, 2 minggu lagi mas walimah”
jelasnya
“e e.. oh iya terima kasih, dengan siapa mas?” Lisa
begitu gugup
“Dengan Dewi Lis” Sambil menyodorkan undangan.
Lisa menerima undangan itu, bergetar hatinya. Begitu
sesak rasanya. Matanya mulai berkaca-kaca, dan masih dalam keadaan tertunduk.
“Mas tahu kamu pasti gak bisa hadir, karena jarak
yang teramat jauh. Mohon doa restunya ya, mas ke dalam dulu. Assalamu’alaikum”
Arga berlalu tanpa sedikitpun merasa curiga. dia benar-benar tidak menyadari
bahwa saat mendengar berita itu Lisa menjadi terpaku seperti batu. Diam seribu
bahasa. Dia juga tidak tahu bahwa Lisa sangat mencintai dan menantinya
hingga saat ini.
Lisa memandang lamat-lamat undangan pernikahan itu.
“Dewi? Dewi wanita yang selama ini selalu menghiasi facebook mas Arga, wanita
yang selalu ku sebut dalam setiap obrolanku dengan mas Arga. Dia.. dia akan
menjadi istri mas Arga?”. Gumamnya dalam hati.
Titik air itu pun jatuh membasahi pipinya. Ia pun berlalu mencari
mushola di gedung itu.
Begitu sesak rasanya, dalam sholatnya ia tak kuasa
menahan tangis. Penantian yang sia-sia, hanya berujung pada kehilangan. Matanya
lebam meradang.
“Ya Rabb,
inikah jawaban atas doa-doaku? Inikah jawaban atas penantianku? Kuatkan aku
untuk menghadapi Skenario baru yang telah Engkau tuliskan. Ya Rabbi laki-laki
itu akan menikah dengan wanita yang aku khawatirkan selama ini. jangan buat
ujian ini hanya akan menjauhkanku darimu” Tangisnya pecah dalam musholah
kecil itu. dan baru bisa tenang beberapa menit kemudian. Setelah usai
melaksanakan sholat ia mencoba menenangkan diri.
Lisa, Tak usah
khawatir jika dia bukan jiwa yang dipilihkanNya untukmu
Karena yang
terbaik pasti akan terwujud
Hanya waktu
yang akan menjadi saksi kekuasaanNya
Tak usah
memaksakan jika kau memang bukan untuk dirinya
Karena pasti
dia bukan yang terbaik untukmu.
Lisa, biarkan pahatNya
yang mengukir takdir, biarkan kuasaNya yang melukis kisah manis.
Biarkan
tanganNya yang meramu, semoga dia bahagia dengan pilihannya
Ia terus menenangkan dirinya, sekitar sejam dalam
musholah. Dan berlalu ke tempat acara. Lebih tenang dari sebelumnya, ia
menganggap seperti tak ada yang terjadi hingga di akhir acara. Berpamitan
dengan teman-teman peserta, termasuk Arga. Dan kembali ke kampung halaman.
Ada pelajaran baru yang telah ia dapatkan selama ini,
benar kata mas Arga bahwa “kita tidak bisa
memaksakan Allah untuk menyatukan kita”. Karena Allah akan pilihkan
pasangan yang terbaik untuk kita. Ada segurat senyum dan setetes embun yang
membasahi pipinya. Ternyata ini benar-benar skenario yang telah Allah tunjukan.
Alhamdulillah…
2 minggu berlalu, Arga telah menikah dengan wanita
itu. Sedang Lisa? Lisa hanya sibuk dengan pegawainya. Usahanya semakin
meningkat pesat. Pesanan demi pesanan mulai membanjiri kantornya. Kesibukan itu
membuat ia lupa dengan masalah Arga.
Beberapa jam kemudian handphonenya berdering, seorang
wanita mengajaknya bertemu. Wanita itu adalah murobbinya. Beliau menanyakan
acara 2 minggu yang lalu, kemudian menawarkan hal yang sama padanya. Lisa hanya
terdiam. Tanpa ditawari berulang-ulang, Ia yakin dan menerima tawaran itu. Bismillah…
Persiapan pernikahannya tak terlalu lama, Ta’aruf,
Khitbah dan Walimatul ursy berjalan dengan lancar tanpa sedikitpun hambatan. Hingga
di malam pertama di kamar pengantin yang begitu indah itu...
“Dik, kita sholat 2 raka’at dulu ya” ajak suaminya
dengan lembut.
“Iya mas” ia mengikuti.
Setelah sholat, Lisa mencium tangan suaminya. Dan suaminya
membalas dengan mencium keningnya.
“Mas Reza capek? Lisa pijitin ya?” senyumnya merekah.
“boleh sayang” balasnya.
Tak lama lisa memijit bahu suaminya, tiba-tiba mas
Reza memintanya untuk berhenti. Dan berbalik arah melihat wajah cantik
istrinya.
“Dik,
sebenarnya dari dulu mas mulai mengagumimu. Mas selalu meminta kepada Allah
agar bisa disatukan denganmu, 2 tahun yang lalu mas melihatmu pada agenda
kampus. Mas meminta untuk dihadiahkan kamu dalam hidup mas. Dari dulu mas ingin
mengungkapkannya padamu, tapi mas tidak ingin kau terganggu dengan rasa ini,
mas urungkan niat itu dalam penantian selama 2 tahun lamanya. Dan melalui
murobbimu lah mas memulai semuanya. Mas yakin kalau kita jodoh pasti akan dimudahkan,
walaupun awalnya kau menolak. Tapi usaha mas melalui murobbimu tak berhenti
sampai di situ. Semua karena rasa cinta yang tulus untukmu, semua mas niatkan
karena cinta mas pada Penciptamu sayangku, karena kau dan mas adalah milikNya”.
Seketika Lisa menangis, menyadari bahwa skenario Allah
itu benar-benar indah. Ia terlalu sibuk memikirkan Arga, dan lupa bahwa kelak akan
Allah hadirkan sosok yang tulus mencintainya, dengan segala usaha yang ia
lakukan. Dan dia percaya bahwa jodoh seseorang adalah cerminan dari dirinya. Penantian
yang sia-sia digantikan dengan keindahan. Semua berawal dari cemburu. Skenario Allah
memang indah, Cemburu membawa berkah. Hingga cinta yang tulus dari insan yang mencintainya adalah hadiah dari Allah untuknya.
“Aku Mencintaimu mas” air matanyanya diusap lembut
oleh suaminya.
“Aku pun demikian sayangku” balasnya dengan
kehangatan.
Malam itu begitu indah, ketentuan hukum alam
sesungguhnya telah diterapkan Allah sejak dulu kala. Begitu juga perputaran
waktu. Allah menggariskannya. Malam yang begitu indah dirasakan oleh 2 insan
yang saling mencinta. Hingga Allah dan para malaikatNya tersenyum melihat sepasang kekasih itu.
